RESENSI BUKU APAKAH TUHAN ADA? Jilid II
BLOG BUKU FILSAFAT SHOP

RESENSI BUKU APAKAH TUHAN ADA? Jilid II Problem Kejahatan, Ateisme dan Batas Pengetahuan Manusia

Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Penerbit: PT. DHARMA LEKSANA MEDIA GROUP
Tahun terbit: 2026
ISBN: Sedang diajukan

Tebal: 908 halaman

Pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” tidak selesai setelah kita menemukan berbagai argumentasi yang mendukung keberadaan Tuhan. Justru setelah argumen kosmologis, teleologis, ontologis, moral, pengalaman religius dan pragmatik dibahas, muncul pertanyaan yang lebih sulit.

Jika Tuhan ada, mengapa kejahatan terjadi?

Jika Tuhan mahakuasa, mahatahu dan mahabaik, mengapa manusia mengalami penderitaan?

Jika Tuhan menghendaki relasi dengan manusia, mengapa keberadaan-Nya tidak selalu tampak jelas?

Jika sains semakin mampu menjelaskan alam semesta melalui hukum-hukum alam, apakah Tuhan masih diperlukan sebagai penjelasan?

Dan jika ateisme memiliki argumentasi filosofis yang kuat, apakah teisme masih dapat dipertahankan secara rasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat buku APAKAH TUHAN ADA? Problem Kejahatan, Ateisme dan Batas Pengetahuan Manusia Jilid II karya Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.

Baca E-Book nya silakan klik tautan dibawah ini :

PETA BESAR BUKU

Jika Jilid I bergerak dari pertanyaan menuju argumentasi yang mendukung keberadaan Tuhan, Jilid II bergerak ke arah kritik dan pengujian.

Buku ini menguji apakah dasar rasional bagi teisme mampu bertahan ketika berhadapan dengan problem kejahatan, divine hiddenness, naturalisme, ateisme filosofis dan keterbatasan pengetahuan manusia. Kedua jilid dirancang sebagai satu rangkaian intelektual yang saling mengoreksi dan melengkapi.

Dengan demikian, Jilid II tidak sekadar menjadi “buku tentang ateisme”. Buku ini merupakan tahap evaluasi terhadap keseluruhan perdebatan tentang Tuhan.

BAB III. ARGUMEN MENENTANG KEBERADAAN TUHAN

Bagian utama buku dimulai dengan problem kejahatan.

Problem ini merupakan salah satu tantangan paling serius terhadap teisme klasik. Jika Tuhan mahakuasa, mahatahu dan mahabaik, bagaimana kita menjelaskan keberadaan penderitaan di dunia?

Buku membedakan dua bentuk utama problem kejahatan.

Pertama, Logical Problem of Evil. Argumen ini mempertanyakan apakah keberadaan Tuhan dan kejahatan secara logis dapat konsisten.

Kedua, Evidential Problem of Evil. Argumen ini tidak harus menunjukkan kontradiksi. Fokusnya adalah apakah jumlah, intensitas dan distribusi penderitaan memberikan evidensi yang cukup kuat untuk mengurangi probabilitas keberadaan Tuhan.

Pembahasan kemudian membedakan moral evil dan natural evil.

Pembunuhan, penyiksaan, korupsi dan kekerasan menjadi contoh kejahatan moral. Gempa bumi, penyakit, pandemi dan penderitaan biologis masuk dalam kategori kejahatan alamiah.

Pembedaan tersebut penting karena Free Will Defense dapat memberikan penjelasan tertentu mengenai kejahatan moral, tetapi tidak otomatis menjelaskan seluruh penderitaan yang berasal dari proses alamiah.

Buku kemudian menguji tiga respons teistik penting:

  1. Free Will Defense Alvin Plantinga
  2. Soul-Making Theodicy John Hick
  3. Skeptical Theism

Ketiga pendekatan tersebut tidak diterima begitu saja. Masing-masing diperiksa berdasarkan kekuatan argumentasi, asumsi metafisis dan kemampuan menjawab keberatan.

Pendekatan Skeptical Theism, misalnya, mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk mengetahui seluruh alasan yang mungkin dimiliki Tuhan. Namun pendekatan ini juga menghadirkan pertanyaan penting. Jika keterbatasan pengetahuan manusia dapat digunakan untuk menjelaskan hampir setiap penderitaan, apakah teori tersebut masih dapat diuji secara rasional?

Di sinilah pembahasan buku menjadi menarik. Penulis tidak sekadar bertanya apakah teisme memiliki jawaban. Penulis bertanya apakah jawaban tersebut memiliki kekuatan argumentatif yang memadai.

DIVINE HIDDENNESS: KETIKA TUHAN TAMPAK TERSEMBUNYI

Persoalan berikutnya menyentuh pengalaman manusia yang mencari Tuhan tetapi tidak menemukan evidensi yang dianggap memadai.

Jika Tuhan menghendaki relasi dengan manusia, mengapa keberadaan-Nya tidak lebih jelas?

Mengapa seseorang yang dengan tulus mencari Tuhan dapat tetap berada dalam posisi tidak percaya?

Buku mengkaji Argument from Divine Hiddenness, terutama pemikiran J. L. Schellenberg dan konsep nonresistant nonbelief.

Persoalan ini membawa perdebatan dari wilayah metafisika menuju epistemologi dan pengalaman eksistensial manusia.

Tuhan yang tersembunyi menjadi persoalan filosofis karena ketidakhadiran evidensi dapat digunakan sebagai dasar untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.

Namun sekali lagi, buku tidak menerima kesimpulan tersebut tanpa evaluasi.

NATURALISME DAN SAINS

Buku kemudian memasuki salah satu wilayah yang paling relevan dengan kehidupan intelektual modern, yaitu hubungan antara sains dan naturalisme.

Perkembangan evolusi, kosmologi, fisika, abiogenesis, neurosains dan ilmu kognitif telah menghasilkan berbagai penjelasan mengenai fenomena yang dahulu sering dijelaskan melalui intervensi supernatural.

Pertanyaan penting kemudian muncul.

Apakah keberhasilan sains mengurangi kebutuhan terhadap Tuhan?

Apakah naturalisme metodologis dalam sains harus berubah menjadi naturalisme metafisis?

Apakah keberhasilan penjelasan ilmiah berarti realitas hanya terdiri dari sesuatu yang bersifat natural?

Buku membuat pembedaan penting antara naturalisme metodologis dan naturalisme metafisis. Pembedaan ini membantu kita memahami bahwa menggunakan metode natural dalam penelitian ilmiah tidak otomatis berarti menerima klaim metafisis bahwa realitas supernatural tidak ada.

Pembahasan ini membuat buku relevan bagi pembaca yang hidup dalam pertemuan antara agama, sains dan teknologi.

ATEISME FILOSOFIS DAN KRITIK TERHADAP TEISME

Jilid II juga memberikan ruang bagi sejarah dan perkembangan ateisme filosofis.

Pembaca diajak mengenal kritik:

Ludwig Feuerbach tentang Tuhan sebagai proyeksi manusia.

Karl Marx tentang agama, ideologi, struktur sosial dan alienasi.

Friedrich Nietzsche tentang kematian Tuhan dan krisis nilai.

Bertrand Russell dan Antony Flew dalam tradisi kritik analitik.

Richard Dawkins, Daniel Dennett, Sam Harris dan Christopher Hitchens dalam perkembangan New Atheism.

Kekuatan bagian ini terletak pada pendekatan yang tidak polemis.

Penulis tidak menjadikan ateisme sebagai musuh intelektual. Argumentasi ateistik dipaparkan untuk kemudian diuji.

Begitu pula teisme tidak ditempatkan sebagai posisi yang otomatis benar hanya karena memiliki tradisi panjang.

Standar evaluasi diterapkan kepada kedua sisi.

DARI PEMBUKTIAN TUNGGAL MENUJU CASE KUMULATIF

Salah satu gagasan penting dalam buku adalah cumulative case.

Pertanyaan tentang Tuhan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu eksperimen, satu data atau satu silogisme.

Kita berhadapan dengan sekumpulan data:

  1. Keberadaan alam semesta
  2. Keteraturan alam
  3. Kehidupan
  4. Kesadaran
  5. Moralitas
  6. Pengalaman religius
  7. Kejahatan
  8. Penderitaan
  9. Ketersembunyian Tuhan
  10. Keberhasilan penjelasan naturalistik

Karena itu, teisme dan ateisme perlu dibandingkan berdasarkan keseluruhan struktur argumentasinya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah:

Kerangka mana yang paling koheren?

Kerangka mana yang memiliki daya jelaskan paling luas?

Kerangka mana yang memiliki asumsi paling ekonomis?

Kerangka mana yang paling mampu menjelaskan pengalaman manusia?

Dan kerangka mana yang paling mampu menjawab keberatan terhadap dirinya sendiri?

BAB IV. SINTESIS DAN EVALUASI

Setelah berbagai argumen teistik dan ateistik dibahas, buku memasuki tahap sintesis.

Di sini penulis membandingkan teisme, ateisme dan agnostisisme dari perspektif epistemologis, logis, metafisis, ilmiah, filosofis dan teologis.

Tujuannya bukan menentukan pemenang melalui retorika.

Tujuannya adalah mencari posisi yang memiliki penjelasan paling koheren terhadap keseluruhan realitas.

Buku juga mengingatkan kita untuk membedakan beberapa pertanyaan.

Apakah sebuah argumen valid secara logis?

Apakah premisnya benar atau masuk akal?

Apakah terdapat penjelasan alternatif?

Apakah posisi tersebut memiliki konsekuensi metafisis yang dapat dipertanggungjawabkan?

Apakah posisi tersebut mampu menjelaskan pengalaman manusia?

Kerangka tersebut membuat evaluasi menjadi lebih disiplin.

BATAS PENGETAHUAN MANUSIA

Salah satu kontribusi penting Jilid II terletak pada pembahasan mengenai batas pengetahuan.

Manusia memiliki keterbatasan inderawi, kognitif dan konseptual. Karena itu, teisme maupun ateisme perlu berhati-hati ketika membuat klaim kepastian.

Buku mengajukan prinsip epistemic humility, atau kerendahan hati epistemik.

Teisme tidak seharusnya menggunakan Tuhan sebagai jawaban otomatis terhadap setiap kesenjangan pengetahuan.

Ateisme juga tidak seharusnya menggunakan ketidaktahuan manusia sebagai bukti bahwa Tuhan tidak ada.

Kita perlu membedakan “belum dapat dijelaskan” dari “tidak dapat dijelaskan”.

Pembedaan ini sangat penting dalam masyarakat yang semakin cepat menghasilkan dan menyebarkan informasi.

TUHAN DALAM MASYARAKAT DIGITAL

Relevansi buku semakin terlihat ketika pembahasan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat abad ke-21.

Manusia kini mencari pengetahuan melalui mesin pencari, media sosial, algoritma dan kecerdasan buatan.

Algoritma dapat merekomendasikan konten keagamaan maupun ateistik.

Kecerdasan buatan dapat membantu kita membaca teks filsafat dan teologi, tetapi juga dapat menghasilkan informasi yang keliru.

Media sosial dapat mempercepat penyebaran argumentasi tentang Tuhan tanpa selalu disertai pemeriksaan epistemologis.

Karena itu, pertanyaan tentang Tuhan kini juga menjadi persoalan literasi epistemik dalam masyarakat informasi.

Buku ini relevan karena mengajarkan kita membedakan argumentasi dari opini, evidensi dari anekdot, korelasi dari kausalitas dan kemungkinan dari kepastian.

KEKUATAN UTAMA BUKU

Pertama, buku memiliki keseimbangan argumentatif.

Penulis menguji teisme dan ateisme menggunakan standar yang sama. Kritik diarahkan kepada gagasan dan argumentasi, bukan kepada pribadi yang memegang keyakinan tertentu.

Kedua, buku memiliki pendekatan interdisipliner.

Filsafat digunakan untuk menguji argumentasi. Sains digunakan untuk memahami realitas empiris. Teologi digunakan untuk merefleksikan iman dan wahyu. Ketiganya ditempatkan dalam dialog dengan tetap menghormati batas metodologis masing-masing.

Ketiga, buku tidak menawarkan kepastian palsu.

Pertanyaan tentang Tuhan tidak dipaksa menjadi pertanyaan yang dapat diselesaikan dengan satu eksperimen atau satu formula.

Keempat, buku memberikan ruang bagi pembaca.

Pembaca dapat mempertahankan iman, menjadi lebih kritis, mempertimbangkan agnostisisme atau mempertahankan ateisme. Yang menjadi ukuran bukan identitas awal pembaca, tetapi kualitas proses berpikir yang digunakan.

BUKU INI UNTUK SIAPA?

Buku ini relevan bagi:

  1. Mahasiswa filsafat, teologi dan ilmu agama.
  2. Dosen dan peneliti filsafat agama.
  3. Teolog dan pemimpin agama.
  4. Pembaca yang sedang mengalami pergumulan intelektual tentang iman.
  5. Pembaca ateis yang ingin memahami kritik filosofis terhadap teisme.
  6. Pembaca agnostik yang ingin memeriksa dasar penangguhan keyakinan.
  7. Ilmuwan dan akademisi yang tertarik pada hubungan sains, agama dan metafisika.
  8. Jurnalis dan penulis yang membutuhkan kerangka berpikir kritis dalam membahas agama.
  9. Pembaca umum yang ingin memahami pertanyaan tentang Tuhan secara sistematis.

NILAI INTELEKTUAL BUKU

Nilai utama buku ini tidak terletak pada usaha memberikan jawaban singkat terhadap pertanyaan “Apakah Tuhan ada?”

Nilainya terletak pada cara buku mengubah pertanyaan tersebut menjadi rangkaian persoalan yang dapat diuji.

Jika Tuhan ada, bagaimana kita menjelaskan kejahatan?

Jika Tuhan baik, bagaimana kita memahami penderitaan?

Jika Tuhan ingin dikenal manusia, mengapa Ia tampak tersembunyi?

Jika sains dapat menjelaskan banyak fenomena alam, apa ruang yang tersisa bagi Tuhan?

Jika ateisme menolak Tuhan, apakah ateisme memiliki dasar metafisis yang memadai?

Jika agnostisisme menangguhkan penilaian, apakah penangguhan tersebut merupakan posisi epistemik paling rasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembaca tidak hanya memikirkan Tuhan. Pembaca juga dipaksa memikirkan hakikat pengetahuan manusia.

KESAN RESENSI

APAKAH TUHAN ADA? Problem Kejahatan, Ateisme dan Batas Pengetahuan Manusia Jilid II merupakan buku filsafat agama yang mengambil posisi akademik dan evaluatif.

Buku ini tidak mengajak kita memenangkan perdebatan.

Buku ini mengajak kita memahami perdebatan.

Penulis menempatkan problem kejahatan sebagai pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih luas tentang Tuhan, penderitaan, moralitas dan keterbatasan pengetahuan. Dari sana pembahasan bergerak menuju divine hiddenness, naturalisme, sains dan ateisme filosofis. Seluruh argumentasi kemudian dipertemukan melalui evaluasi kumulatif.

Hasilnya adalah sebuah peta intelektual yang membantu kita memahami mengapa teisme tetap memiliki ruang rasional, mengapa ateisme memiliki kritik yang serius, dan mengapa agnostisisme tetap menjadi salah satu posisi epistemologis yang perlu dipertimbangkan.

Buku ini juga memiliki relevansi khusus bagi masyarakat digital. Di tengah banjir informasi mengenai agama, sains dan ateisme, kemampuan membedakan argumen yang valid dari klaim yang sekadar populer menjadi kebutuhan intelektual.

EPILOG: MENCARI TUHAN DI TENGAH KETIDAKPASTIAN

Pada akhirnya, Jilid II tidak menutup pertanyaan tentang Tuhan.

Justru buku ini membawa kita kepada kesadaran bahwa pertanyaan tersebut terlalu besar untuk diselesaikan melalui slogan.

Kita membutuhkan argumentasi.

Kita membutuhkan evidensi.

Kita membutuhkan refleksi.

Dan kita membutuhkan keberanian untuk mengakui batas pengetahuan manusia.

Karena itu, buku ini lebih tepat dipahami sebagai peta intelektual daripada jawaban final. Peta tersebut membantu kita melihat medan perdebatan, memahami posisi yang berbeda dan menentukan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

KALIMAT PROMOSI

“Jika Tuhan ada, mengapa kejahatan terjadi?”

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk menuju salah satu perdebatan paling serius dalam filsafat agama.

APAKAH TUHAN ADA? Problem Kejahatan, Ateisme dan Batas Pengetahuan Manusia Jilid II karya Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. membawa kita memasuki wilayah ketika argumen tentang Tuhan berhadapan dengan penderitaan, ketersembunyian ilahi, sains, naturalisme dan ateisme.

Buku ini membahas Problem of Evil, Divine Hiddenness, naturalisme dan ateisme filosofis melalui pemikiran Plantinga, John Hick, Schellenberg, Feuerbach, Marx, Nietzsche, Russell, Flew, Dawkins, Dennett, Harris dan Hitchens.

Tidak ada slogan.

Tidak ada kesimpulan yang dipaksakan.

Yang ada adalah argumentasi, evidensi, kritik dan evaluasi.

Buku ini mengajak kita menguji apa yang kita percaya.

Buku ini juga mengajak kita menguji apa yang kita ragukan.

Pada akhirnya, pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” tetap terbuka.

Namun setelah membaca buku ini, kita memiliki alasan yang lebih kuat untuk mengajukan pertanyaan tersebut dengan cara yang lebih kritis, sistematis dan bertanggung jawab.

APAKAH TUHAN ADA?

Problem Kejahatan, Ateisme dan Batas Pengetahuan Manusia
Jilid II

Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
PT. DHARMA LEKSANA MEDIA GROUP
2026

Related posts

Leave a Comment