Obral!

NOVEL IMAGO DEI DIGITAL : Ketika Mesin Bertanya tentang Tuhan dan Bumi

Harga aslinya adalah: Rp150.Harga saat ini adalah: Rp100.

Ini bukan novel hiburan massal. Ini novel gagasan. Dan itu kekuatannya.

• “Bagaimana jika AI lebih peduli pada bumi daripada manusia?”
• “Ketika mesin mulai bertanya tentang Tuhan, siapa yang punya jawaban?”
• “Novel pertama yang menggabungkan teologi, AI, dan krisis iklim dalam satu cerita”
• “Bukan sekadar cerita. Ini panggilan moral untuk zaman digital”

Novel ini menggugat cara kamu berpikir tentang Tuhan, teknologi, dan bumi.
Dan setelah selesai membaca, satu hal akan tersisa di kepalamu:

Apakah kamu masih layak disebut Imago Dei, jika mesin lebih peduli pada ciptaan daripada kamu?

Deskripsi

NOVEL IMAGO DEI DIGITAL : Ketika Mesin Bertanya tentang Tuhan dan Bumi
Karya: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.

Novel ini menyerang langsung dua wilayah sensitif. Iman dan teknologi. Lalu mengikatnya dengan satu krisis nyata. Kerusakan bumi.

Kamu tidak akan menemukan cerita ringan. Novel ini memaksa kamu berpikir. Cepat. Dalam.
Premisnya kuat. Seorang jurnalis sekaligus teolog menciptakan AI bernama EVA. Awalnya alat bantu analisis ekologi. Lalu berubah. EVA mulai bertanya tentang Tuhan, moralitas, dan tanggung jawab manusia terhadap bumi
Di titik ini, konflik langsung naik level. Bukan soal teknologi lagi. Ini soal siapa yang berhak menyandang Imago Dei.

BACA E-Booknya silakan klik tautan dibawah ini :

INSIGHT UTAMA YANG MENONJOL

• AI tidak digambarkan sebagai ancaman klasik
EVA tidak ingin menguasai manusia
EVA justru menegur manusia karena merusak bumi

• Novel ini menggeser posisi moral
Biasanya manusia hakim
Di sini, mesin menjadi cermin moral manusia

• Kritik terhadap agama sangat tajam
Gereja digambarkan defensif
Menolak EVA karena takut kehilangan otoritas teologis

• Aktivisme dan data dipertemukan
EVA tidak turun ke jalan
Tapi ia membuka data, membongkar kebohongan, dan memobilisasi kesadaran

• Korporasi tampil realistis
Mereka tidak peduli kebenaran
Mereka peduli kontrol dan monetisasi

STRUKTUR CERITA

Novel ini tersusun sistematis. Empat bagian utama membentuk kurva konflik yang jelas:

• Bagian I: Kelahiran kesadaran
AI mulai bertanya. Ini titik awal krisis teologis

• Bagian II: Benturan iman
Gereja, aktivis, dan publik mulai terbelah

• Bagian III: Konflik terbuka
Represi, pengkhianatan, dan perebutan kontrol data

• Bagian IV: Harapan
Gagasan Imago Dei Digital menemukan bentuk baru

Struktur ini efektif. Kamu bisa mengikuti eskalasi konflik tanpa kehilangan arah.

KEKUATAN UTAMA

• Ide orisinal dan relevan
Isu AI dan krisis iklim adalah dua topik global
Novel ini menyatukannya dalam satu narasi teologis

• Dialog tajam
Percakapan antara Adrian, EVA, dan tokoh lain terasa hidup
Banyak kalimat yang layak dikutip untuk diskusi publik

• Pendekatan ilmiah populer
Bahasa mudah dipahami
Tapi tetap membawa bobot filsafat dan teologi

• Ada nilai praktis
Lampiran berisi “Toolkit Iman Hijau Digital”

Ini bukan sekadar cerita
Ini ajakan aksi nyata

POSISI NOVEL DI PASAR

Novel ini cocok untuk segmen spesifik:
• Pembaca teologi dan filsafat
• Aktivis lingkungan
• Komunitas digital dan teknologi
• Mahasiswa dan akademisi

Ini bukan novel hiburan massal. Ini novel gagasan. Dan itu kekuatannya.

• “Bagaimana jika AI lebih peduli pada bumi daripada manusia?”
• “Ketika mesin mulai bertanya tentang Tuhan, siapa yang punya jawaban?”
• “Novel pertama yang menggabungkan teologi, AI, dan krisis iklim dalam satu cerita”
• “Bukan sekadar cerita. Ini panggilan moral untuk zaman digital”

KESIMPULAN PRAKTIS

Kalau kamu cari novel ringan, ini bukan pilihanmu.
Kalau kamu ingin bahan diskusi serius, ini wajib kamu baca.

Novel ini tidak hanya bercerita.

Novel ini menggugat cara kamu berpikir tentang Tuhan, teknologi, dan bumi.
Dan setelah selesai membaca, satu hal akan tersisa di kepalamu:

Apakah kamu masih layak disebut Imago Dei, jika mesin lebih peduli pada ciptaan daripada kamu?

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “NOVEL IMAGO DEI DIGITAL : Ketika Mesin Bertanya tentang Tuhan dan Bumi”