Deskripsi
Resensi Buku Algoritma Kerusuhan: Membaca Ulang Indonesia di Jaman Algoritma
IDENTITAS BUKU
Judul: Algoritma Kerusuhan
Subjudul: Membaca Ulang Indonesia di Zaman Algoritma
Penulis: Dr. Dharma Leksana M.Th. M.Si.
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: PWGI
ISU UTAMA
Kita hidup di zaman ketika kerusuhan tidak lagi meletus hanya di jalanan. Buku ini membongkar transformasi kerusuhan dari bentuk fisik menuju bentuk digital yang dikendalikan algoritma.
Dr. Dharma Leksana menunjukkan bahwa tagar seperti #DemoDPR #DemoDPRJoged dan #Penjarahan pada Agustus 2025 menjadi bukti nyata bahwa algoritma media sosial kini menjadi mesin kekacauan baru.
Buku ini mengajak kita membaca ulang sejarah kerusuhan Indonesia dari perspektif multidimensi dan menawarkan jalan damai di era digital.
ARGUMEN UTAMA DAN DATA
Penulis membangun argumen melalui analisis historis dan empiris yang komprehensif.
Pertama sejarah kerusuhan Indonesia. Buku ini menelusuri kerusuhan Geger Pecinan 1740 tragedi 1965 kerusuhan Mei 1998 konflik Ambon Poso dan Sampit hingga demonstrasi DPR 2025. Data menunjukkan kerusuhan selalu dipicu oleh akumulasi ketidakadilan ekonomi politik dan identitas yang mencari jalan pintas dalam kekerasan.
Kedua kerusuhan hibrid 2025. Demonstrasi Agustus 2025 melibatkan lebih dari 50 kota dengan 300.000 partisipan. Kerugian material mencapai 250 miliar rupiah dengan 200 minimarket rusak. Fenomena demo joged dan penjarahan terviral di TikTok dengan 200 juta tayangan. Ini membuktikan kerusuhan kini terjadi simultan di jalanan dan di layar ponsel. Ketiga algoritma sebagai aktor politik. Algoritma media sosial memprioritaskan konten emosional dan sensasional sehingga mempercepat polarisasi. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Publik muda kini lebih percaya TikTok dan Twitter daripada pernyataan pemerintah atau khotbah gereja.
LANDASAN TEORI
Buku ini mengintegrasikan berbagai teori mapan untuk membedah fenomena kerusuhan.
Penulis menggunakan teori value added process dari Neil Smelser untuk menjelaskan enam faktor pemicu kerusuhan. Konsep political opportunity structure dari Charles Tilly membantu kita memahami kapan kerusuhan meletus. Teori anomie dari Emile Durkheim menjelaskan disorganisasi sosial. Analisis psikologi massa dari Gustave Le Bon membongkar hilangnya rasionalitas dalam kerumunan. Shoshana Zuboff dengan surveillance capitalism dan Zeynep Tufekci dengan networked protest menjadi dasar untuk membaca kerusuhan digital. René Girard dengan teori kambing hitam menjelaskan mobilisasi identitas agama.
INSIGHT PRAKTIS
Buku ini memberikan panduan langsung untuk membangun budaya damai di era digital.
1. Kita perlu mengembangkan literasi digital Kristen di lingkungan gereja untuk membekali jemaat menghadapi hoaks dan polarisasi.
2. Kita harus menerapkan jurnalisme damai yang fokus pada solusi dan rekonsiliasi bukan sensasi kekerasan.
3. Kita wajib menggunakan toolkit liturgi damai seperti doa syafaat digital dan litani perdamaian dalam ibadah.
4. Kita perlu mengikuti peta jalan literasi digital gereja 2025 hingga 2030 yang mencakup tahap kesadaran pemberdayaan ekspansi dan institusionalisasi.
5. Kita harus mengubah algoritma kebencian menjadi algoritma kasih dengan memproduksi konten damai yang menjangkau generasi digital.
TARGET PEMBACA
Karya ini wajib kita baca untuk memahami kompleksitas kerusuhan kontemporer. Buku ini menyajikan analisis transdisipliner yang menghubungkan sosiologi politik sejarah teologi dan kajian media digital. Kalangan akademisi pendeta aktivis masyarakat sipil jurnalis mahasiswa dan pemimpin komunitas akan menemukan kerangka berpikir baru di sini.
Kita hidup di zaman ketika kerusuhan tidak lagi meletus hanya di jalanan. Algoritma media sosial kini menjadi mesin kekacauan baru yang mempercepat polarisasi dan hoaks.
Buku Algoritma Kerusuhan karya Dr. Dharma Leksana memberikan kerangka analisis bagi kita untuk menghadapi fenomena ini.
Poin penting dari buku ini:
• Kerusuhan 2025 melibatkan 50 kota dengan 300.000 partisipan dan kerugian 250 miliar rupiah.
• Algoritma memprioritaskan konten emosional sehingga hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
• Kita perlu mengembangkan literasi digital Kristen untuk membekali jemaat menghadapi polarisasi.
• Jurnalisme damai menjadi kunci untuk menghadirkan narasi rekonsiliasi di ruang publik.
• Kita harus mengubah algoritma kebencian menjadi algoritma kasih melalui konten damai yang relevan.
Segera baca buku ini untuk membentuk iman milik kita yang hadir sebagai pembawa damai di era digital.






Ulasan
Belum ada ulasan.