Deskripsi
Resensi Buku Bergereja di Tengah Kepungan Post-truth
IDENTITAS BUKU
Judul: Bergereja di Tengah Kepungan Post-truth
Subjudul: Gereja sebagai Penyuara Kebenaran di Era Kekacauan Makna
Penulis: Dr. Dharma Leksana M.Th. M.Si.
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group
ISU UTAMA
Kita menghadapi era di mana emosi mengalahkan fakta objektif. Buku ini membedah fenomena post-truth sebagai krisis epistemik dan spiritual. Dr. Dharma Leksana menunjukkan bahwa algoritma media sosial membentuk isolasi kognitif yang mengurung kita dalam keyakinan sendiri. Gereja perlu merespons kekacauan makna ini dengan menawarkan kebenaran relasional.
ARGUMEN UTAMA DAN DATA
Penulis membangun argumen melalui analisis transdisipliner.
Pertama, konstruksi realitas digital. Penulis menggunakan teori simulakra Jean Baudrillard untuk menjelaskan bagaimana citra digital menggantikan eksistensi nyata. Identitas milik kita di media sosial menjadi kurasi performa.
Kedua, ekonomi perhatian. Shoshana Zuboff dan Zeynep Tufekci menjadi landasan teori untuk membongkar kapitalisme pengawasan. Algoritma memprioritaskan konten emosional untuk mempertahankan atensi milik kita.
Ketiga, teologi inkarnasi digital. Antonio Spadaro dan Heidi Campbell memberikan kerangka eklesiologi jaringan. Gereja bertransformasi dari struktur hierarkis menjadi komunitas partisipatif.
INSIGHT PRAKTIS
Buku ini memberikan panduan praksis bagi komunitas gereja.
• Kita perlu menerapkan pembedaan data untuk memilah informasi yang membangun kasih dan yang menebar ketakutan.
• Kita harus membangun spiritualitas keheningan di tengah kebisingan notifikasi digital. • Kita wajib menghadirkan kehadiran inkarnasional melalui pendampingan pastoral di ruang virtual.
• Kita perlu mengembangkan tata kelola data yang melindungi privasi umat dari eksploitasi digital.
Kita hidup di era post-truth di mana emosi sering mengalahkan fakta. Algoritma membentuk isolasi kognitif yang membatasi pandangan kita. Buku Bergereja di Tengah Kepungan Post-truth karya Dr. Dharma Leksana memberikan kerangka analisis bagi gereja untuk menghadapi krisis ini.
Poin penting dari buku ini:
• Algoritma memprioritaskan konten emosional untuk mempertahankan atensi milik kita. • Identitas digital kita sering kali menjadi kurasi performa yang menjauhkan kita dari kejujuran eksistensial.
• Gereja perlu bertransformasi menjadi eklesiologi jaringan yang partisipatif dan kolaboratif.
• Kebenaran Injil menawarkan keutuhan di tengah fragmentasi informasi digital.
• Kita perlu menerapkan pembedaan data dan spiritualitas keheningan sebagai respons etis.
Segera baca buku ini untuk menghadapi iman milik kita di tengah kekacauan makna digital.






Ulasan
Belum ada ulasan.