Deskripsi
Mencari Makna yang “Sia-Sia” di Tengah Deru Informasi Digital
Di tengah hiruk-pikuk dan kecepatan informasi di era digital, banyak orang Kristen, terutama kaum muda, bergumul dengan pertanyaan eksistensial tentang arti hidup, pekerjaan, kekayaan, dan kebijaksanaan. Kitab Pengkhotbah (Qohelet), dengan repetisi “kesia-siaan belaka” (hebel), terasa sangat relevan dengan kelelahan, kecemasan, dan kekosongan yang seringkali dialami di ruang online.
Buku “Tafsir Hermeneutika Kitab Pengkhotbah di Era Digital” karya Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. hadir sebagai mercusuar yang sangat dibutuhkan. Bukan sekadar menafsirkan teks kuno, buku ini secara brilian menjembatani hikmat Qohelet dengan tantangan kontemporer yang spesifik di hadapan gereja dan umat. Penulis, dengan latar belakang teologi dan ilmu komunikasi/informasi, menawarkan sebuah hermeneutika kontekstual yang tajam dan relevan.
Inovasi dan Kedalaman: Mengawinkan Qohelet dan Teologi Digital
Keunggulan utama buku ini terletak pada pendekatannya yang inovatif:
- Relevansi Kontekstual yang Kuat: Dr. Dharma Leksana tidak hanya menjelaskan makna literal Kitab Pengkhotbah, tetapi ia mengaplikasikannya langsung pada fenomena teologi digital. Mulai dari overload informasi, kecanduan media sosial, krisis identitas online, hingga persoalan etika digital, Qohelet dihidupkan untuk “berbicara” pada generasi Z dan milenial.
- Keseimbangan Teologis dan Praktis: Penulis memadukan analisis teks Ibrani yang mendalam dengan landasan teori hermeneutika yang kokoh, lalu menerjemahkannya menjadi implikasi praktis bagi pelayanan gereja di platform digital. Hal ini menjadikannya sumber yang berharga, baik bagi akademisi, mahasiswa teologi, maupun praktisi gereja.
- Mempertanyakan “Kesia-siaan” Digital: Buku ini mengajak pembaca untuk kritis terhadap ilusi “keabadian” dan “kepuasan instan” yang ditawarkan dunia digital. Melalui lensa Qohelet, ia mengkritik pengejaran likes, followers, dan kekayaan online sebagai bentuk hebel (kesia-siaan) modern, sambil menawarkan perspektif Kristen yang berpusat pada Allah.
Siapa yang Harus Membaca Buku Ini?
- Mahasiswa dan Dosen Teologi: Sebagai contoh studi kasus hermeneutika kontekstual dan teologi digital yang komprehensif.
- Gembala, Penatua, dan Pemimpin Pelayanan Digital: Untuk mendapatkan kerangka berpikir teologis dalam merancang strategi pelayanan online yang berakar dan etis.
- Jurnalis Gereja dan Anggota PWGI: Untuk memperkaya perspektif penulisan dan pelaporan terkait isu-isu spiritual dan digital.
- Umat Kristen Pengguna Aktif Media Sosial: Untuk merefleksikan kembali penggunaan gawai dan media sosial mereka dalam terang hikmat Alkitab.
Kesimpulan: Buku “Tafsir Hermeneutika Kitab Pengkhotbah di Era Digital” adalah kontribusi esensial dalam literatur Teologi Indonesia di abad ke-21. Ini lebih dari sekadar tafsir; ini adalah panggilan untuk menemukan makna sejati yang melampaui layar gawai, menjadikannya wajib dimiliki oleh setiap individu yang serius bergumul dengan iman dan teknologi.
| #TafsirHermeneutika, #DrDharmaLeksana, #BukuTeologiKristen, #Qohelet, #KitabPengkhotbah, | |
| #TeologiDigital, #HermeneutikaDigital, #KesiaSiaan, #Hebel, #ImanDanTeknologi, #GerejaDigital, | |
| #Tokogereja, #PelayananDigital, #MahasiswaTeologi, #KristenMilenial, #PWGI, #TeologiIndonesia, | |
| #GenerasiZ, #ChristianBook, #RenunganAlkitab, #MaknaHidup, #DigitalisasiGereja, | |
| Tafsir Kitab Pengkhotbah, Teologi Digital, Hermeneutika Kitab Pengkhotbah, Tafsir Kitab Pengkhotbah, Teologi Digital, Hermeneutika Kitab Pengkhotbah, Tafsir Pengkhotbah Era Digital, Buku Dr. Dharma Leksana, Teologi Digital Gereja, Makna Hidup Era Digital, Kesia-siaan Kitab Pengkhotbah, | |
| Buku Rohani Mahasiswa Teologi, Referensi Pelayanan Digital, Buku Teologi Kontemporer | |
| Jual Buku Tafsir Pengkhotbah, Harga Buku Teologi Digital, | |






Ulasan
Belum ada ulasan.