Obral!

Etika Kristen Digital: “Membaca Ulang Sepuluh Perintah Allah untuk Menghadapi Media Sosial, Kecerdasan Buatan, Algoritma dan Kehidupan Digital Modern”

Harga aslinya adalah: Rp950.Harga saat ini adalah: Rp650.

BUKU ETIKA KRISTEN DIGITAL

Peradaban manusia sedang mengalami pergeseran eksistensial yang sangat mendasar. Kehadiran kecerdasan buatan, media sosial, algoritma dan sistem pengolahan data raksasa tidak lagi sekadar menjadi instrumen teknis. Teknologi telah bermutasi menjadi ruang hidup baru yang mendikte cara kita berpikir, mengambil keputusan dan menjalin relasi. Di tengah perubahan masif ini, buku berjudul Etika Kristen Digital: Membaca Ulang Sepuluh Perintah Allah untuk Menghadapi Media Sosial, Kecerdasan Buatan, Algoritma dan Kehidupan Digital Modern hadir sebagai kompas moral yang sangat kita butuhkan.

Karya monumental setebal 900 halaman yang ditulis oleh Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. ini merupakan sebuah terobosan penting bagi diskursus teologi digital di Indonesia. Buku ini menjawab kegelisahan mendasar kita. Ketika dunia dipimpin algoritma, bagaimana kita memastikan hati kita tetap dipimpin oleh Firman Tuhan? Penulis tidak terjebak dalam sikap tekno-fobia yang menolak kemajuan dan tidak terjebak dalam tekno-filia yang mendewakan teknologi tanpa sikap kritis. Sebaliknya, penulis menempatkan teknologi sebagai bagian dari mandat budaya yang harus kita kelola secara bertanggung jawab di hadapan Allah.

Kekuatan utama buku ini terletak pada metodologi interdisipliner yang digunakan oleh penulis. Penulis secara sistematis memadukan studi biblika Perjanjian Lama, teologi sistematika, etika Kristen, psikologi media sosial, komunikasi digital dan ilmu komputer. Kerangka analisis yang kokoh ini digunakan untuk membedah Sepuluh Perintah Allah atau Dekalog sebagai kompas moral universal yang tidak pernah usang.

Melalui bab-bab yang disusun secara logis, kita diajak untuk melihat kembali setiap larangan dan perintah di Gunung Sinai dalam konteks layar digital kita. Perintah Pertama “Jangan ada padamu allah lain” dibaca ulang sebagai kritik tajam terhadap berhala baru berupa algoritma ekonomi perhatian yang menyita waktu serta fokus spiritual kita. Perintah Kedelapan “Jangan mengucapkan saksi dusta” diaplikasikan langsung untuk menghadapi tsunami hoaks, misinformasi, disinformasi dan manipulasi wajah digital berupa deepfake berbasis kecerdasan buatan.

Penulis berhasil menguraikan bagaimana dosa lama manusia menemukan medium baru di dunia maya. Keserakahan purba kini menjelma menjadi industri judi online yang merusak ekonomi keluarga dan pinjaman online ilegal yang mengeksploitasi data pribadi. Penulis menyajikan data empiris dan analisis psikologis yang mendalam mengenai hormon dopamin digital, budaya pamer atau flexing serta ketakutan tertinggal yang kita kenal sebagai FOMO.

Buku ini sangat relevan bagi gereja, pendidik, keluarga dan generasi muda. Penulis memberikan panduan konkret untuk melakukan detoks digital dan menerapkan disiplin Sabat digital. Langkah praktis ini sangat kita butuhkan untuk memulihkan kesehatan mental keluarga serta menjaga fokus spiritual di tengah dunia yang tidak pernah tidur.

Sebagai sebuah karya ilmiah populer yang berbasis riset mendalam, buku ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pengembangan teologi kontekstual di Indonesia. Buku ini berhasil menjembatani teori akademik dengan panduan pastoral praktis. Setiap bab dilengkapi dengan rujukan teologis yang mapan dan contoh kasus yang terjadi di sekitar kita sehari-hari. Karya monumental ini memperlengkapi kita semua untuk menjadi warga digital yang berintegritas dan membawa terang di tengah rimba algoritma.

Apakah layar gawai kita telah menggeser posisi Tuhan di hati kita?

Buku terbaru Etika Kristen Digital karya Dr. Dharma Leksana mengajak kita menjelajahi sepuluh alasan penting mengapa buku setebal 900 halaman ini wajib kita baca:

  • Buku ini membedah bagaimana algoritma media sosial diam-diam merancang kebiasaan dan moralitas kita sehari-hari.
  • Kita akan dituntun untuk membaca ulang Sepuluh Perintah Allah sebagai navigasi praktis menghadapi kecerdasan buatan dan deepfake.
  • Penulis membongkar rahasia psikologi dopamin digital yang membuat kita kecanduan layar gawai.
  • Menemukan solusi konkret mengatasi kecemasan akibat budaya pamer atau flexing dan ketakutan tertinggal di media sosial.
  • Panduan praktis menerapkan Sabat digital dan detoks digital untuk memulihkan kehangatan komunikasi dalam keluarga Kristen.
  • Menyoroti bahaya nyata judi online dan pinjaman online ilegal dari sudut pandang integritas iman.
  • Mengupas tuntas etika penggunaan kecerdasan buatan dalam pelayanan gereja dan pekerjaan profesional.
  • Menuntun kita menjadi agen kebenaran yang aktif melawan penyebaran hoaks dan disinformasi di ruang digital.
  • Dilengkapi dengan kata sambutan hangat dari para tokoh teologi, akademisi dan jurnalis senior Indonesia.
  • Menyajikan manifesto lengkap warga digital Kristen sebagai komitmen nyata untuk menjadi terang di dunia maya.

Mari kita miliki buku ini segera untuk menjaga pertumbuhan spiritual keluarga kita di era kecerdasan buatan. Dapatkan buku luar biasa ini sekarang juga melalui penerbit PT Dharma Leksana Media Group.

Deskripsi

Navigasi Iman di Era Algoritma: Membaca Ulang Dekalog untuk Kehidupan Digital Modern

  • Judul Buku: Etika Kristen Digital: “Membaca Ulang Sepuluh Perintah Allah untuk Menghadapi Media Sosial, Kecerdasan Buatan, Algoritma dan Kehidupan Digital Modern”

 

  • Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
  • Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group, Jakarta
  • Tahun Terbit: 2026 (Edisi Pertama)
  • Tebal Buku: 1000 Halaman (12 Bab Utama)
  • Motto Utama: “Ketika dunia dipimpin algoritma, biarlah hati kita tetap dipimpin Firman Tuhan.”
  1. PENDAHULUAN DAN KONTEKS ZAMAN

Peradaban manusia sedang mengalami pergeseran tektonik. Dunia tidak lagi sekadar menggunakan teknologi sebagai alat bantu, melainkan telah berpindah dan berorganisasi di dalam ruang digital. Kehadiran media sosial, kecerdasan buatan (AI), analisis big data, dan algoritma linier telah mengubah cara kita berpikir, berelasi, bekerja, beribadah, hingga membentuk persepsi kebenaran.

Di tengah kenyamanan dan efisiensi teknologi digital, muncul krisis moral dan eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena hoaks, disinformasi, deepfake, cyberbullying, revenge porn, kecanduan dopamin digital, burnout, hingga polarisasi sosial akibat echo chamber dan filter bubble menjadi tantangan nyata.

Lewat magnum opus setebal 1000 halaman ini, Dr. Dharma Leksana menghadirkan jawaban teologis-filosofis yang sangat dinantikan. Buku ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah moral; kecerdasan buatan harus diiringi oleh kebijaksanaan manusia, dan algoritma harus tetap berada di bawah kendali nilai-nilai kemanusiaan serta Firman Tuhan.

  1. TESIS UTAMA BUKU

Tesis sentral buku ini sangat jernih dan kuat: Sepuluh Perintah Allah (Dekalog) tidak pernah usang.

Walaupun diberikan ribuan tahun lalu, Dekalog mencerminkan karakter Allah yang abadi dan hakikat moral manusia yang tidak berubah. Penulis secara cermat membuktikan bahwa dosa-dosa klasik dalam Alkitab tidak hilang, melainkan mengalami metamorfosis digital. Penyembahan berhala kini mewujud dalam ketergantungan mutlak pada algoritma; saksi dusta mewujud dalam hoaks dan deepfake AI; pencurian mewujud dalam pencurian identitas, peretasan data, dan pelanggaran hak cipta; serta pembunuhan mewujud dalam cyberbullying yang menghancurkan jiwa seseorang.

  1. STRUKTUR DAN STRATEGI PEMBAHASAN MATERI

Buku ini disusun secara empiris, sistematis, dan logis melalui pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teologi biblika, teologi sistematika, etika Kristen, filsafat moral, psikologi media sosial, ilmu komunikasi, hingga etika kecerdasan buatan.

 

  • Bab 1 – 3: Revolusi Digital dan Realitas Dosa Baru

Penulis membedah sejarah revolusi digital dari era komputer, internet, hingga gawai pintar dan AI. Penulis menjelaskan mekanisme psikologi media sosial, ekonomi perhatian (attention economy), efek dopamin digital, serta bagaimana algoritma mengeksploitasi rentannya emosi manusia.

  • Bab 4: Perintah Pertama – Allah atau Algoritma?

Menganalisis bahaya digital idolatry (penyembahan berhala digital). Ketika algoritma mengatur apa yang kita lihat, baca, dan percayai, algoritma mengambil alih peran Allah sebagai penentu arah hidup kita.

  • Bab 5: Perintah Kedua – Menjaga Kekudusan di Dunia Maya

Menyoroti bahaya influencer rohani, pendeta selebritas, komersialisasi agama, clickbait religius, hingga fenomena proof-texting dan potongan khotbah viral yang kehilangan konteks.

  • Bab 6: Perintah Ketiga – Sabat Digital

Menawarkan solusi atas krisis burnout digital dan budaya always-on 24/7. Penulis menekankan pentingnya disiplin Digital Detox, Silent Retreat, dan pemulihan spiritualitas istirahat di tengah kebisingan digital.

  • Bab 7: Perintah Keempat – Keluarga di Tengah Gempuran Gadget

Membahas parenting digital, tantangan mendidik Generasi Alpha dan Generasi AI, serta bagaimana menjadikan keluarga sebagai komunitas utama pembentuk karakter berbasis iman.

  • Bab 8: Perintah Ke-5 hingga Ke-7 – Melindungi Kehidupan dan Martabat

Uraian tajam mengenai isu-isu kejahatan siber: cyberbullying, revenge porn, AI pornography, pencurian identitas, keamanan data pribadi, hingga penegakan hak cipta dan integritas intelektual.

  • Bab 9: Perintah Kedelapan – Kebenaran Melawan Hoaks

Refleksi mendalam tentang karakter Allah sebagai sumber kebenaran. Penulis merumuskan 7 prinsip Literasi Digital Kristen untuk melawan disinformasi, propaganda digital, dan perangkap post-truth.

  • Bab 10 – 12: Mengalahkan Keserakahan Digital dan Masa Depan Gereja

Membedah fenomena judi online, pinjaman online eksploitatif, budaya flexing, serta menyajikan panduan praktis kepemimpinan, pemuridan, dan penginjilan digital.

 

  1. KEUNGGULAN UTAMA BUKU
  1. Komprehensif dan Kontekstual: Menjadi salah satu referensi teologi digital paling lengkap di Indonesia dengan ketebalan 1000 halaman yang mencakup hampir seluruh fenomena teknologi modern.

 

  1. Landasan Akademis Kokoh: Mendapat apresiasi luar biasa dari para profesor teologi, pimpinan organisasi gereja, akademisi sains-teknologi, dan jurnalis senior (Prof. Dr. Hoga Saragih, Pdt. Hosea Sudarna, Ribut Karyono, M.Th., Pdt. Dr. Johanes Tuwaidan, dan Kolonel (Purn.) Dr. Ir. Sukanto Hadi, M.T.).

 

  1. Praktis dan Aplikatif: Tidak berhenti pada teori, tetapi memberikan panduan konkrit bagi orang tua, pendeta, dosen, mahasiswa, jurnalis, serta pengembang teknologi.

 

  1. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BUKU

Buku “Etika Kristen Digital” karya Dr. Dharma Leksana adalah karya monumental dan wajib dimiliki di era transformasi digital saat ini. Buku ini bukan hanya peta navigasi moral, tetapi juga kompas spiritual yang memperlengkapi kita agar tidak terseret oleh arus algoritma, melainkan mampu menjadi garam dan terang di ruang siber.

Sangat Direkomendasikan Bagi:

  • Pendeta, Pelayan Gereja, & Pemimpin Komunitas: Sebagai bahan pembinaan jemaat, katekisasi, dan pengembangan strategi pelayanan digital.
  • Dosen, Mahasiswa, & Akademisi: Sebagai buku teks/rujukan utama mata kuliah Teologi Digital, Etika Kristen, Komunikasi, dan Pendidikan Karakter.
  • Orang Tua & Guru: Sebagai panduan pengasuhan (parenting digital) untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk gawai.
  • Jurnalis, Praktisi Media, & Programmer IT: Sebagai pijakan etika profesi dalam menghasilkan konten dan sistem teknologi yang bermartabat.
  • Generasi Muda & Warga Digital: Siapa saja yang ingin memiliki hikmat dan integritas di tengah dunia media sosial dan kecerdasan buatan.

 

 

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Etika Kristen Digital: “Membaca Ulang Sepuluh Perintah Allah untuk Menghadapi Media Sosial, Kecerdasan Buatan, Algoritma dan Kehidupan Digital Modern””