TEOLOGI ALGORITMA
BLOG BUKU TEOLOGI SHOP

TEOLOGI ALGORITMA: PETA KONSEPTUAL IMAN DI ERA DIGITAL

Judul: TEOLOGI ALGORITMA: Peta Konseptual Iman di Era Digital
Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Editor: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Tahun Terbit: 2026
ISBN: (Sedang diajukan)
Desain & Layout: Tim Dharma Creative Studio

Penerbit:
PT. DHARMA LEKSANA MEDIA GROUP

SK-KUMHAM NOMOR AHU-0072639.AH.01.01.TAHUN 2022

NPWP: 61.286.378.7-025.000

Gedung Juang Semar Suryakencana

Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Lt.3

Kebon Kelapa – Gambir, Jakarta Pusat 10440

Tlp. (+6281) 82303839

Website : https://penerbitdharmaleksana.com

E-mail: admin@penerbitdharmaleksana.com  

ISBN : ………………………………

Katalog Dalam Terbitan (KDT):

Tebal Buku : xxi+ 715 hlm, ; 14,5 cm x 21 cm

E-Book silakan baca dengan klik tautan di bawah ini :

Siapa yang sebenarnya membentuk cara kita berpikir, memilih, percaya, dan menjalani kehidupan di era digital?

Setiap hari kita berhadapan dengan algoritma. Ketika membuka media sosial, mencari informasi, menonton video, berbelanja, menggunakan navigasi, membaca berita, bahkan ketika mencari renungan dan ayat Alkitab, algoritma bekerja di balik layar. Ia memilih, menyaring, mengurutkan, merekomendasikan, memprediksi, dan menentukan apa yang mendapatkan perhatian kita.

Kita mungkin merasa bahwa kitalah yang memilih.

Namun, seberapa bebas pilihan kita ketika apa yang kita lihat, baca, dengar, dan sukai telah terlebih dahulu diseleksi oleh sistem algoritmik?

Di sinilah persoalan algoritma berubah menjadi persoalan teologis.

Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital mengajak kita melihat algoritma bukan semata-mata sebagai teknologi, tetapi sebagai kekuatan sosial, budaya, ekonomi, epistemologis, dan spiritual yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.

Buku ini memperkenalkan gagasan Teologi Algoritma sebagai sebuah refleksi teologis kontekstual, kritis, dan profetis terhadap kehidupan manusia dalam masyarakat algoritmik. Algoritma dibaca sebagai sebuah locus theologicus baru, yaitu konteks baru tempat pertanyaan tentang Allah, manusia, dosa, kebenaran, kebebasan, keadilan, gereja, dan iman harus kembali direnungkan.

Dengan memanfaatkan perspektif teologi klasik, teologi kontekstual, teologi digital, filsafat teknologi, kajian media, serta kritik terhadap kapitalisme digital dan kekuasaan algoritmik, buku ini mengungkap berbagai fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan kita: ekonomi perhatian, datafikasi manusia, surveillance capitalism, filter bubble, bias algoritmik, algoritma sebagai liturgi baru, nomos digital, dosa digital, hingga munculnya “berhala digital” dalam bentuk data, popularitas, viralitas, dan kecerdasan buatan.

Namun buku ini tidak berhenti pada kritik.

Ia mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:

Bagaimana iman Kristen harus hidup ketika dunia semakin diatur oleh algoritma?

Bagaimana gereja memahami liturgi di tengah budaya scroll dan notifikasi?

Bagaimana pemuridan berlangsung ketika smartphone menjadi ruang belajar utama?

Bagaimana Kitab Suci ditafsir ketika teks semakin dimediasi oleh platform dan algoritma?

Bagaimana gereja membela martabat manusia ketika manusia semakin direduksi menjadi data?

Bagaimana etika Kristen menjawab persoalan privasi, keadilan, transparansi, akuntabilitas, kecerdasan buatan, dan masa depan manusia?

Dan yang paling penting:

Apakah algoritma akan menjadi sekadar alat di tangan manusia, atau perlahan-lahan berubah menjadi otoritas yang menentukan kehidupan manusia?

WhatsApp Image 2026 09 08 at 00.39.38
TEOLOGI ALGORITMA: PETA KONSEPTUAL IMAN DI ERA DIGITAL

Buku ini menawarkan sebuah batas teologis yang tegas.

Algoritma bukan Tuhan.
Data bukan wahyu.
Prediksi bukan nubuat.
Popularitas bukan kebenaran.
Viralitas bukan Injil.
AI bukan hikmat ilahi.
Teknologi bukan keselamatan.
Dan manusia bukan produk.

Di tengah dunia yang semakin percaya kepada data, prediksi, optimasi, dan kecerdasan mesin, buku ini mengembalikan perhatian kita kepada satu pusat iman Kristen yang tidak boleh digantikan oleh teknologi apa pun:

Logos.

Sebab manusia bukan sekadar kumpulan data yang dapat dihitung, diprediksi, dan dioptimalkan. Manusia adalah imago Dei, gambar Allah, yang memiliki martabat, kebebasan, relasi, tanggung jawab, dan panggilan untuk hidup dalam kebenaran dan kasih.

Teologi Algoritma pada akhirnya bukan hanya buku tentang teknologi.

Ini adalah buku tentang manusia.

Tentang siapa yang membentuk kita.

Tentang apa yang kita sembah.

Tentang bagaimana kita memahami kebenaran.

Tentang bagaimana gereja hadir di tengah perubahan peradaban.

Dan tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin dikelilingi mesin.

Ketika algoritma semakin pintar, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah mesin dapat berpikir seperti manusia.

Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih mampu berpikir, percaya, mengasihi, dan hidup sebagai manusia di hadapan Allah?

Related posts

Leave a Comment