Deskripsi
Resensi Buku Pengaruh Media Sosial dalam Penyebaran Intoleransi Beragama di Indonesia
Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group, Jakarta, 2025
Tebal: ±300 halaman
1. Tema Sentral dan Gagasan Pokok
Buku ini mengupas fenomena paling mencolok di era digital: bagaimana media sosial—ruang yang awalnya dibangun untuk konektivitas—justru menjadi ladang subur bagi intoleransi beragama. Dr. Dharma Leksana menempatkan analisisnya dalam kerangka teologi digital, sosiologi media, dan etika komunikasi, menunjukkan bahwa algoritma bukanlah entitas netral, melainkan cermin nilai dan ideologi yang tersembunyi di balik teknologi.
Melalui sepuluh bab yang terstruktur sistematis, buku ini melacak hubungan antara disrupsi digital, ujaran kebencian, polarisasi identitas, hingga strategi moderasi beragama dan etika digital. Inti pesannya sederhana tapi kuat: iman dan etika digital harus berjalan beriringan agar ruang siber tidak menjadi medan kebencian, tetapi taman bagi kebajikan dan kasih.
2. Pendekatan Ilmiah dan Data Empiris
Kekuatan buku ini terletak pada fondasi datanya yang solid dan terkini (2024–2025).
Dr. Dharma mengutip laporan dari DataReportal, Kominfo, Pew Research Center, Setara Institute, CSIS, hingga Oxford Internet Institute, serta riset akademik dari jurnal internasional (Frontiers, Atlantic Council, Taylor & Francis).
Pendekatan empiris ini membuat analisisnya tidak hanya reflektif, tapi juga terukur. Misalnya:
• 143 juta pengguna media sosial di Indonesia (DataReportal, 2025).
• 64% pengguna di Asia Tenggara pernah melihat ujaran kebencian berbasis agama (Pew Research).
• 18% peningkatan insiden intoleransi digital (Setara Institute, 2024).
Setiap data diolah dalam kerangka teoretis yang kuat—menghubungkan McLuhan, Habermas, Pariser, Campbell, dan Bauman dengan konteks Indonesia. Hasilnya adalah peta utuh tentang bagaimana “iman, algoritma, dan identitas” saling berkelindan dalam dunia maya.
3. Struktur dan Isi Buku
Buku ini terbagi dalam 10 bab utama, membentuk alur logis dari akar masalah hingga solusi:
1. Dunia Ganda Manusia Digital – menelusuri paradoks kesalehan online dan disrupsi moralitas.
2. Apa Itu Media Sosial dan Ekosistemnya – membedah infrastruktur platform dan mekanisme algoritmik.
3. Perang Informasi – menunjukkan bagaimana disinformasi menjadi senjata politik dan ideologis.
4. Ujaran Kebencian – mengurai bahasa sebagai peluru kekerasan simbolik.
5. Intoleransi Agama di Media Sosial – menyajikan data empiris dan studi kasus aktual.
6. Moderasi Beragama sebagai Solusi Digital – menggagas pendekatan kebijakan dan teologis.
7–10. Bab reflektif dan aplikatif – membangun etika digital, spiritualitas daring, dan kerukunan digital.
Setiap bab disusun dengan gaya ilmiah populer—mudah diakses pembaca umum, tetapi tetap akademik bagi peneliti atau dosen.
4. Nilai Keilmuan dan Kebaruan (Novelty)
Novelty utama buku ini ada pada integrasi lintas disiplin:
• Menyatukan psikoanalisis digital, etika teologis, dan analisis media algoritmik.
• Menghadirkan konsep “spiritualitas digital” sebagai jalan tengah antara iman dan teknologi.
• Menawarkan kerangka kebijakan kerukunan digital berbasis literasi, etika, dan empati.
Buku ini tak berhenti di kritik; ia mengusulkan praksis sosial: literasi digital berbasis iman, pendidikan agama kontekstual, dan sinergi pemerintah–platform–masyarakat sipil.
5. Gaya Bahasa dan Narasi
Bahasanya tenang, reflektif, dan elegan. Dr. Dharma menulis dengan nada analitis tapi tetap manusiawi. Ia tak sekadar menuding gejala, tapi mengajak pembaca menatap diri: “Ruang digital seharusnya memperluas kasih, bukan mempersempit iman.”
Narasi seperti ini membuat buku terasa hidup—seolah menuntun, bukan menggurui.
6. Relevansi Sosial dan Akademik
Buku ini relevan bagi:
• Akademisi dan mahasiswa di bidang teologi, komunikasi, dan sosiologi.
• Pemuka agama dan aktivis literasi digital yang bergulat dengan polarisasi daring.
• Pemerintah dan pembuat kebijakan, karena memuat rekomendasi regulatif dan etis.
Ia menjadi bacaan wajib di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan politik identitas menjelang momentum elektoral.
7. Kesimpulan: Cermin Etika di Era Algoritma
Media sosial tidak menciptakan intoleransi; ia hanya mempercepat yang sudah ada.
Kalimat itu menggambarkan semangat buku ini. Dr. Dharma tidak sekadar memotret gejala, tetapi menantang pembaca membangun iman yang sadar digital.
Buku ini bukan hanya tentang intoleransi, tapi tentang upaya merebut kembali kemanusiaan dalam jagat siber.
8. Kata Kunci
pengaruh media sosial, intoleransi beragama, ujaran kebencian, literasi digital, moderasi beragama, teologi digital, etika media, kebebasan beragama, polarisasi sosial, era algoritma, kerukunan digital, Dr Dharma Leksana, PWGI 2025, cyber theology Indonesia, digital religion
9. Hashtag
#PengaruhMediaSosial
#IntoleransiDigital
#TeologiDigital
#LiterasiDigital
#ModerasiBeragama
#KerukunanDigital
#PWGI2025
#DharmaLeksana
#EtikaSiber
#SpiritualitasDigital






Ulasan
Belum ada ulasan.