BOLEHKAH GEREJA BERPOLITIK?
Resensi Buku: Bolehkah Gereja Berpolitik? Perspektif Teologis dan Praktis
Judul :
BOLEHKAH GEREJA BERPOLITIK? Perspektif Teologis dan Praktis
Penulis : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Hak Cipta @ 2025 pada Penulis.
Editor : Dr. Dharma Leksana, M. Th., M.Si
Layout: Tim Dharma Leksana Media Group
Cover : Tim Dharma Leksana Media Group
ISBN : ………………………………
Katalog Dalam Terbitan (KDT):
Penerbit :
PT. DHARMA LEKSANA MEDIA GROUP
Gedung Juang Semar Suryakencana
Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Lt.3
Kebon Kelapa – Gambir, Jakarta Pusat 10440
Tlp. (+6281) 82303839
Website : https://penerbitdharmaleksana.com
E-mail: admin@penerbitdharmaleksana.com
xxi+ 549 hlm, ; 14,5 cm x 21 cm
BACA E-Book nya silakan lihat di bawah ini:
Ringkasan Eksekutif & Tesis Resensi
Tesis Utama Resensi: Keterlibatan gereja dalam ruang publik merupakan kewajiban moral dan sosial yang bersumber dari etika imago Dei dan mandat sosial Alkitab, namun keterlibatan ini wajib dibatasi pada politik etis-profetik (pemajuan kebaikan bersama, pembelaan kaum rentan, dan pengawasan kekuasaan) serta menolak secara tegas politik praktis-partisan (perebutan jabatan dan legitimasi kekuasaan).
Distribusi Fokus & Poin Penting:
- Konstruksi Epistemologis dan Tipologi Politik
- Pembedaan tegas antara politik etis-profetik (pengaturan hidup bersama demi bonum commune) dan politik praktis-partisan (perebutan kursi/jabatan kekuasaan negara).
- Penegakan batasan etis agar otoritas sakral dan mimbar gereja tidak dijadikan komoditas legitimasi politik.
- Dinamika Dialektis Teologi Politik dan Filosofis
- Sintesis pemikiran teologis klasik hingga kontemporer: Augustinus (Civitas Dei vs Civitas Terrena), Martin Luther (Two Kingdoms), John Calvin (tanggung jawab sipil), Karl Barth (penolakan absolutisme negara), Dietrich Bonhoeffer (tanggung jawab atas korban), hingga Gustavo Gutiérrez (Teologi Pembebasan).
- Integrasi kerangka filsafat politik: Aristoteles (zoon politikon), Max Weber (legitimasi kekuasaan), Hannah Arendt (tindakan kolektif publik), Alasdair MacIntyre (kebajikan komunitas), dan Jürgen Habermas (ruang publik postsekuler).
- Analisis Kontekstual Demokrasi Indonesia dan Dinamika Global
- Respons kritis terhadap realitas Pancasila, UUD 1945, ancaman politisasi agama, politik uang, serta korupsi sistemik di Indonesia.
- Komparasi historis empiris dengan gerakan Gereja di Amerika Latin, Afrika Selatan (perlawanan terhadap Apartheid oleh Desmond Tutu), dan Eropa Timur (Solidaritas Polandia).
- Kerangka Kerja Etis Lima Pertanyaan Evaluatif Resensi ini menggarisbawahi lima pertanyaan filter etis yang ditawarkan oleh Dr. Dharma Leksana sebagai panduan keputusan gereja:
- Politik seperti apa? (Etis-profetik, bukan partisan).
- Untuk tujuan apa? (Keadilan sosial dan martabat manusia).
- Dengan batas apa? (Nonpartisan, mempertahankan jarak kritis).
- Dengan siapa? (Masyarakat sipil dan jejaring lintas iman).
- Demi siapa? (Kaum miskin, tertindas, dan kelompok rentan).
- Wawasan Praktis Langsung
- Rekomendasi konkret bagi kepemimpinan jemaat: pelaksanaan literasi politik digital, penegakan kode etik nonpartisan mimbar, edukasi antikorupsi, serta penguatan gereja sebagai hati nurani bangsa.
