Obral!

TEOLOGI DIGITAL: SEBAGAI UPAYA MENERJEMAHKAN MISIOLOGI GEREJA DI ERA SOCIETY 5.0

Harga aslinya adalah: Rp500.Harga saat ini adalah: Rp370.

Buku setebal 578 halaman ini dikembangkan dari penelitian tesis tentang teologi digital dan misiologi gereja di Indonesia. Penulis mengajak kita memahami bahwa ruang digital telah menjadi ruang eksistensial manusia. Kita tidak lagi memisahkan dunia online dan offline secara kaku karena keduanya telah menyatu dalam kehidupan hibrid. Buku ini membantu kita menggeser fokus dari sekadar digitalisasi pelayanan teknis menuju pemikiran teologis yang mendalam.

Deskripsi

INFORMASI BUKU
Judul Buku: TEOLOGI DIGITAL: SEBAGAI UPAYA MENERJEMAHKAN MISIOLOGI GEREJA DI ERA SOCIETY 5.0
Penulis: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group
Tahun Terbit: September 2026 (Edisi Pertama)
Tebal Buku: xxi + 578 halaman (14,5 cm x 21 cm)
ISBN: Sedang diajukan

EBOOK bisa dibaca disini, silakan klik tautan DIBAWAH INI :

PENDAHULUAN DAN RELEVANSI BUKU

Perkembangan teknologi digital mengubah lanskap kehidupan manusia secara mendasar. Manusia modern bekerja, belajar, membangun relasi dan mencari makna spiritual melalui jaringan internet. Ketika masyarakat bergerak menuju era Society 5.0 yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan, big data dan Internet of Things, gereja menghadapi tantangan misiologis yang nyata. Buku karya Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. ini hadir sebagai tanggapan teologis yang sistematis, empiris dan kontekstual terhadap perubahan peradaban tersebut.

Buku setebal 578 halaman ini dikembangkan dari penelitian tesis tentang teologi digital dan misiologi gereja di Indonesia. Penulis mengajak kita memahami bahwa ruang digital telah menjadi ruang eksistensial manusia. Kita tidak lagi memisahkan dunia online dan offline secara kaku karena keduanya telah menyatu dalam kehidupan hibrid. Buku ini membantu kita menggeser fokus dari sekadar digitalisasi pelayanan teknis menuju pemikiran teologis yang mendalam.

RINGKASAN DAN ANALISIS BUKU
1. Membaca Dunia Digital Secara Teologis Bagian pertama membekali kita dengan pemahaman mendasar mengenai teologi digital. Penulis membedakan penggunaan perangkat digital dari refleksi teologi digital. Mengutip pemikiran Antonio Spadaro, internet dipahami sebagai lingkungan hidup yang membentuk cara berpikir dan cara beriman. Konsep digital religion dari Heidi Campbell digunakan untuk menjelaskan praktik keagamaan hibrid masyarakat modern. Penulis juga memanfaatkan pemikiran Peter H. Cheong untuk memperlihatkan pergeseran otoritas keagamaan di era media sosial.
2. Society 5.0 dan Missio Dei Bagian kedua menelaah perkembangan masyarakat supercerdas dari Society 1.0 hingga Society 5.0. Penulis menyoroti risiko dehumanisasi akibat masyarakat algoritmik, pengawasan data dan dominasi kecerdasan buatan. Doktrin Imago Dei dijadikan landasan teologis untuk menegaskan martabat manusia di hadapan teknologi. Manusia adalah ciptaan Allah yang memiliki nilai transenden, melampaui sekadar data atau profil digital. Penulis menempatkan ruang digital sebagai ladang partisipasi gereja dalam Missio Dei.
3. Gereja dalam Ruang Digital Bagian ketiga membahas aspek praktis eklesiologi, ibadah hybrid, pemuridan dan pelayanan pastoral. Penulis memaparkan dinamika ibadah hibrid yang mempertemukan layar dan altar. Diskusi teologis mengenai sakramen seperti Perjamuan Kudus daring diurai secara objektif. Pemuridan digital dirancang untuk membangun iman yang berakar kuat dan mencegah kedangkalan akibat konsumsi konten singkat. Pendampingan pastoral digital melalui platform percakapan ditekankan sebagai bentuk kehadiran relasional yang nyata.
4. Etika dan Konteks Gereja Indonesia Bagian keempat menghadirkan analisis etika Kristen di dunia digital. Gereja dipanggil melawan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, polarisasi, deepfake dan pelanggaran privasi data jemaat. Keunggulan bagian ini terletak pada penelitian empiris terhadap empat tradisi gereja di Indonesia, yaitu Pantekosta, HKBP, GKI dan Gereja Independen Urban. Penulis menunjukkan bagaimana setiap tradisi merespons transformasi digital secara khas sesuai latar belakang liturgi dan eklesiologinya.
5. Model Misi Digital Holistik Bagian kelima memformulasikan kontribusi utama buku ini berupa Model Misi Digital Holistik. Model ini mengintegrasikan tiga lapisan utama:
• Lapisan Teologis: Meliputi inkarnasi digital, eklesiologi digital, sakramen dan etika.
• Lapisan Misiologis: Berfokus pada Missio Dei digital, misi holistik dan narasi Alkitab.
• Lapisan Praktis: Menerjemahkan refleksi ke dalam ibadah hybrid, pemuridan digital, pastoral digital, pelayanan kreatif dan keadilan digital.

KEUNGGULAN DAN INSIGHT PRAKTIS BUKU
Buku ini memberikan argumen yang logis dan relevan bagi perkembangan gereja saat ini. Pembahasan disusun secara berurutan mulai dari teori teologis, analisis sosial hingga strategi pelayanan lapangan. Buku ini memberikan jawaban konkrit atas pertanyaan mengenai kehadiran Injil di tengah masyarakat yang diatur oleh algoritma.

Berikut adalah insight praktis dari buku ini yang dapat langsung kita terapkan dalam pelayanan:
• Kita perlu memandang ruang digital sebagai medan misi Allah, melampaui sarana promosi.
• Kita harus membangun gereja hybrid yang mengintegrasikan persekutuan fisik dan komunikasi digital.
• Kita wajib melindungi martabat jemaat sebagai Imago Dei dari ancaman komodifikasi data dan dehumanisasi digital.
• Kita perlu mengembangkan pemuridan digital yang mendalam untuk melawan kecenderungan iman yang dangkal.
• Kita harus menerapkan etika digital yang ketat dalam menjaga kerahasiaan pastoral dan menyebarkan kebenaran.

REKOMENDASI BACAAN
Buku ini sangat penting dibaca oleh pendeta, teolog, dosen, mahasiswa teologi, majelis gereja, aktivis pelayanan media dan generasi digital. Dr. Dharma Leksana berhasil menghadirkan karya yang komprehensif untuk menuntun gereja kita dalam menjalankan panggilan misi Allah di tengah perubahan jaman.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “TEOLOGI DIGITAL: SEBAGAI UPAYA MENERJEMAHKAN MISIOLOGI GEREJA DI ERA SOCIETY 5.0”