TUHAN ATAU ALGORITMA: Siapa yang Mengatur Kebenaran, Kehidupan dan Masa Depan Manusia?

Buku TUHAN ATAU ALGORITMA mengajak pembaca memasuki percakapan kritis antara teknologi, filsafat, masyarakat dan teologi. Buku ini membahas bagaimana algoritma bekerja sebagai kekuatan tak terlihat dalam kehidupan modern dan bagaimana manusia dapat mempertahankan kebebasan, martabat serta tanggung jawab moralnya di tengah dunia yang semakin dikendalikan oleh data dan kecerdasan buatan.
Buku ini tidak mengajak kita memusuhi teknologi.
Buku ini juga tidak mengajak kita takut kepada kecerdasan buatan.
Sebaliknya, buku ini mengajak kita memahami teknologi secara lebih kritis.
Algoritma dapat membantu manusia.
Algoritma dapat mempercepat pekerjaan.
Algoritma dapat membuka pengetahuan.
Namun algoritma juga dapat mengawasi, memanipulasi dan membentuk kehidupan ketika manusia menyerahkan terlalu banyak keputusan kepada mesin.

Deskripsi

Kita hidup dalam sebuah zaman ketika banyak keputusan dalam kehidupan sehari-hari semakin dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak selalu kita lihat.

Ketika kita membuka Facebook, Instagram, TikTok atau YouTube, sebuah sistem menentukan konten yang muncul di hadapan kita. Ketika kita berbelanja melalui platform digital, sistem mempelajari apa yang kita cari dan kemudian menawarkan produk yang dianggap sesuai dengan minat kita. Ketika kita menggunakan Google Maps, aplikasi transportasi, layanan streaming, mesin pencari, aplikasi kencan atau platform perdagangan elektronik, algoritma bekerja di belakang layar untuk memprediksi kebutuhan dan mengarahkan pilihan.

BACA E-Book nya silakan klik tautan di bawah ini :

Kita sering menyebut semua itu sebagai kemudahan.

Namun ada pertanyaan yang perlu kita ajukan lebih jauh.

Apa yang terjadi ketika kemudahan berubah menjadi ketergantungan?
Apa yang terjadi ketika rekomendasi berubah menjadi pengarahan?
Apa yang terjadi ketika prediksi berubah menjadi keputusan?
Dan apa yang terjadi ketika manusia mulai mempercayai sistem algoritmik lebih daripada kemampuan penilaiannya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat buku ini.

_Buku setebal 712 halaman berjudul “TUHAN ATAU ALGORITMA: Siapa yang Mengatur Kebenaran, Kehidupan dan Masa Depan Manusia?” Karya Dr. Dharma Leksana tidak lahir dari sikap anti-teknologi.

Buku ini juga tidak bermaksud menempatkan Tuhan dan algoritma sebagai dua kekuatan yang berada dalam posisi yang sama.

Judul tersebut merupakan sebuah pertanyaan kritis.

Pertanyaan itu mengajak kita memeriksa kembali sumber otoritas dalam kehidupan manusia.

Di tengah dunia yang semakin bergantung pada data, kecerdasan buatan dan sistem rekomendasi, siapa yang sebenarnya menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita pilih, apa yang kita percayai dan bagaimana kita membayangkan masa depan?

Algoritma pada dirinya sendiri tidak memiliki kehendak moral seperti manusia. Ia bekerja berdasarkan desain, data, tujuan dan parameter yang ditentukan oleh manusia atau organisasi yang mengembangkannya. Karena itu, persoalan algoritma pada akhirnya selalu kembali kepada persoalan manusia.

* Siapa yang membuat algoritma?
* Untuk kepentingan siapa algoritma bekerja?
* Data siapa yang digunakan?
* Siapa yang memperoleh keuntungan?
* Siapa yang memiliki akses terhadap informasi?
* Siapa yang bertanggung jawab ketika sistem menghasilkan keputusan yang merugikan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika algoritma memasuki wilayah yang sebelumnya dianggap sangat manusiawi.

Algoritma memengaruhi identitas.
Algoritma memengaruhi relasi sosial.
Algoritma memengaruhi ekonomi.
Algoritma memengaruhi politik.
Algoritma memengaruhi cara kita memperoleh informasi.
Bahkan algoritma mulai hadir dalam pencarian spiritual manusia.

Seseorang dapat mencari khotbah melalui YouTube, membaca Alkitab melalui aplikasi, mengikuti konten rohani melalui TikTok, mendengarkan podcast teologi dan menemukan komunitas iman melalui media sosial. Semua pengalaman tersebut memiliki manfaat. Namun semuanya juga berlangsung melalui sistem digital yang melakukan seleksi, pemeringkatan dan rekomendasi.

Di sinilah persoalan teologis menjadi penting.

* Jika pengalaman manusia semakin dimediasi oleh algoritma, bagaimana kita memahami kebebasan?
* Jika informasi keagamaan semakin disaring oleh sistem rekomendasi, bagaimana kita memahami otoritas?
* Jika manusia dapat memperoleh jawaban teologis melalui kecerdasan buatan, bagaimana kita memahami relasi manusia dengan pengetahuan?
* Jika algoritma dapat memprediksi perilaku manusia, bagaimana kita memahami tanggung jawab moral?
* Dan jika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dahulu dianggap khas manusia, bagaimana kita memahami martabat manusia?

Buku ini mencoba memasuki pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui dialog antara teknologi, ilmu sosial, filsafat dan teologi.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “TUHAN ATAU ALGORITMA: Siapa yang Mengatur Kebenaran, Kehidupan dan Masa Depan Manusia?”